Langsung ke konten utama

Hujan dan Kenangan Masa Lalu

        Aku tersenyum tipis saat menatap hujan deras di luar jendela kantor tempat ku bekerja sebagai kepala bagian keuangan, aroma coklat panas dalam genggamanku semakin melempar ku pada kenangan indah masa remaja, masa yang sangat kurindukan namun ingin kulupakan. Menyesap coklat panas dan kembali menatap hujan yang bahkan seakan tak ingin berhenti dan terus menyiram bumi yang semakin hari semakin terasa panas akibat menipisnya lapisan ozon. Sejenak aku mulai memejamkan mata, dan tenggelam dalam lamunanku akan hari itu.

Flashback 2012
"Hmmm..." ucapku sambil memejamkan mata menikmati aroma saat hujan dan bersentuhan dengan tanah.

"Kenapa sih kamu suka banget aroma hujan?" tanya pria disebelahku, Agdi. 

"Karena aromanya menenangkan" masih tetap dengan mata terpejam aku menjawab pertanyaannya.

        Aku suka hujan, aromanya, gerimisnya dan segala hal tentangnya. Hujan mampu menutupi semua rapuh yang kumiliki, mengusap air mata yang bahkan tak pernah kutunjukkan kepada siapapun, dan hujan menyelimuti kehancuranku setelah perpisahan ayah dan mama 3 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP.

"Aku juga bisa nenangin kamu, jadi kita nggak perlu hujan-hujanan."

Aku hanya terkekeh singkat saat mendengar ucapannya.

"Ini beda, Di"

"Apanya yang beda?" tanya Agdi padaku.

"Bedanya kamu bisa pergi dari aku suatu hari nanti, tapi hujan nggak akan pernah pergi. Hujan akan selalu kembali ke aku."

"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu" ucapnya "Kamu bisa pegang janji aku."

"Aku percaya." balasku singkat sambil tersenyum membuka mata dan menatapnya. Perlahan aku menyentuh rambutnya yang basah akibat hujan dan melihatnya tersenyum padaku.

"Aku sayang kamu, Ra."

"Aku juga."

        Waktu berjalan dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin kami lulus SMA dan sekarang kamu sudah berada di halaman rektorat universitas untuk foto bersama sebagai tanda kelulusan dan kebebasan dari momok para mahasiswa, yaitu skripsi. Aku melihat ayah dan Agdi yang sedang berbicara entah tentang apa, mungkin tentang rencana masa depan pria itu atau apalah yang biasanya dibicarakan para pria ketika mereka bersama. Aku bisa melihat Agdi yang menatapku sambil tersenyum dari tempatku berdiri bersama teman-temanku yang lain. Toga dikepala pria itu membuatnya semakin terlihat hmmm tampan mungkin. Aku bahkan tak pernah mengira kami bisa sampai berada di titik ini.

"Ara.." aku menolehkan tatapanku saat merasakan tepukan singkat pada pundak yang masih terbalut baju wisuda.

"Tante.. Apa kabar? Seneng deh ketemu tante. Ara kangen banget sama tante." ucapku sambil memeluk Tante Yuli, mama Agdi.

"Cuma sama tante aja nih, Ra? Nggak kangen Om?"

"Kangen Om Herman juga." 

"Kamu sama Agdi gimana? Akur kan?"

"Anak Om itu ngeselin, dia suka bikin Ara marah." jawabku sambil tertawa.

"Hahaha... yang pentingkan Ara sayang." balas Om Herman yang membuatku semakin tertawa kencang disertai pipi yang memerah.

        Setelah acara selesai, kami berempat memutuskan makan siang bersama untuk merayakan kelulusan kami. Sekolah bersama, kuliah bersama dan wisuda bersama. Bukankan ini merupakan keinginan banyak orang dan terlihat bahwa kami sempurna? Bukankan ini sudah cukup untuk membuat orang berpikir tentang betapa berutnungnya kami bisa melewati semua ini bersama? Ya. Kurasa, aku memang beruntung.

"Ra, besok aku mau ke Bandung nemuin Oma. Kamu mau ikut?" tanyanya setelah kami selesai makan dan duduk berdua di mobil.

"Besok aku istirahat aja deh. Kamu ke Bandung jam berapa?"

"Pagi. Jam 6 mungkin"

"Sama Tante dan Om?"

"Sendiri. Mama dan Papa ada acara siangnya."

"Oke. Besok kabarin aku aja ya? Kalo aku nggak bales berarti aku masih tidur hihihi.."

"Huuu dasar.." balasnya dengan tertawa dan mengacak rambutku yang merupakan kegiatan favoritnya.

Flashback end

        Aku tersenyum ketika mengingat saat itu, bahkan masih belum bisa percaya bahwa percakapan itu adalah percakapan terakhir kami. Hari itu, dihari kepergiannya ke Bandung, hujan yang sangat deras mengakibatkan jalanan licin. Polisi mengatakan bahwa mobilnya tergelincir karena menghindari mobil yang hilang kendali didepannya. Setelah mengalami koma selama dua minggu, aku mendengar suara datar monitor detak jantung disamping ranjangnya dan dua puluh menit kemudian dokter memberitahukan waktu kepergiannya.
        Dia pernah berjanji ditengah hujan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku, namun ditengah hujan pula dia mengingkari janjinya. Meninggalkanku sendirian dengan semua kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan meski 3 tahun telah berlalu.
        Hujan diluar sudah mulai reda, aku mengambil cangkir coklat yang kini sudah tak panas lagi dan membawanya ke dapur bagian. Aku membereskan pekerjaanku kemudian mengambil tas dan bergegas pulang.

"Aku baik-baik aja, Di. Aku masih kangen kamu. Hujan masih menenangkan namun disatu sisi juga menyakitkan saat kepergian kamu muncul diingatanku. Terima kasih untuk selama ini." ucapku dalam hati.


Komentar