Suara riuh tepuk tangan terus bergema di seluruh lapangan ketika bola melewati keeper begitu saja dan menembus masuk ke gawang pertanda gol kesekian yang dicetak hingga membuat pertandingan berakhir dengan kemenangan bagi sekolah kami. Mataku masih intens menatap seseorang yang sedang menyeka keringat di dahi sambil berbicara santai dengan rekan satu timnya. Seulas senyum tipis terpatri di bibir ku ketika pria itu berbalik dan pandangan mata kami bertemu. "Ri. Gila.. keren banget itu Rivaldy. Nggak salah dia dipilih jadi kapten, keren abis sumpah, Ri." Aku duduk di kantin dengan malas mendengarkan Diana terus berceloteh panjang lebar tentang pertandingan yang baru saja usai." "Di" "Hmmm?" "Nggak capek dari tadi ngomongin Rivaldy? Kamu udah mengulang perkataan yang sama lebih dari tiga kali." aku menatap Diana dengan sebal. "Kamu nggak gimana-gimana liat cowok sekeren itu?" "Nggak." ucapku sambil menatap lurus kedepan. ...
La douleur exquise berasal dari bahasa Prancis yang merupakan istilah untuk menggambarkan perasaan sakit karena menginginkan seseorang yang tidak bisa dimiliki. Segala ingatan manis dan pahit tentangmu selalu disana tanpa pernah mampu ku lupa, kamu dan hujan, kita dan kenangan, dan kenangan dengan masa lalu yang harusnya terpendam tapi belum mampu ku lakukan. “ Kamu selalu jadi satu-satunya, Ra. Aku janji. Sampai kapan pun. ” Aku masih mengingat dengan jelas kalimat manis yang membuatku semakin terjatuh dalam segala pesona yang dimiliki oleh pria berwajah tampan itu, dia Arya, mahasiswa prodi manajemen dikampusku. Kami menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun. Arya sangat baik dan pengertian, dia menyangi keluarganya lebih dari apapun dan dia memperlakukanku layaknya tuan putri. “ Maaf ya aku telat, nggak marahkan? Nih, aku bawain mie ayam kesukaan kamu ." Arya selalu bisa menenangkan segala emosi dan amarahku, aku...