La douleur exquise berasal dari bahasa Prancis yang merupakan istilah untuk menggambarkan perasaan sakit karena menginginkan seseorang yang tidak bisa dimiliki.
Segala ingatan manis dan pahit tentangmu selalu disana tanpa pernah mampu ku lupa, kamu dan hujan, kita dan kenangan, dan kenangan dengan masa lalu yang harusnya terpendam tapi belum mampu ku lakukan.
“Kamu selalu jadi satu-satunya, Ra. Aku janji. Sampai kapan pun.”
Aku masih mengingat dengan jelas kalimat manis yang membuatku semakin terjatuh dalam segala pesona yang dimiliki oleh pria berwajah tampan itu, dia Arya, mahasiswa prodi manajemen dikampusku. Kami menjalin hubungan kurang lebih 2 tahun. Arya sangat baik dan pengertian, dia menyangi keluarganya lebih dari apapun dan dia memperlakukanku layaknya tuan putri.
“Maaf ya aku telat, nggak marahkan? Nih, aku bawain mie ayam kesukaan kamu."
Arya selalu bisa menenangkan segala emosi dan amarahku, aku selalu tak tega ketika menatap wajah manisnya ditambah saat dia memasang wajah memelas minta maaf karena terlambat di kencan kami. Arya dan segala kesempurnaannya yang membuatku terbang tinggi meninggalkan bumi, membawaku kedalam imaji yang aku sendiri tak mengerti bagaimana bisa terjadi juga pada akhirnya yang membawaku pada jurang tak berdasar dan memberi luka tak terperi. Seperti kata orang bilang, don’t love too much, because too much can hurt you so much.
”Aku minta maaf, Ra. Kita harus selesai sampai disini.”
Hari itu, hujan turun dengan derasnya saat dia yang ku anggap paling sempurna melontarkan kalimat yang tak pernah aku kira. Kami baik – baik saja sebelumnya dan itulah yang membuatku tak mengerti.
“Aku akan menikah bulan Desember nanti. Maaf, Ra.”
Kalimat tersebut berhasil membuat tubuhku kaku, seperti ada petir yang menyambar. Aku hanya diam menatap nanar ke arah mata pria yang ku puja dengan segenap jiwa, dia si sempurna yang berubah menjadi luka tak terkira. Aku masih berharap semua hanya canda, namun saat perlahan genggamnya mulai terlepas aku tau inilah realita. Matanya yang biasa membuatku tenang kini seakan pedang yang menusukku secara gamblang. Sakit tak berdarah. Perlahan dengan pasti dia mulai meninggalkan aku yang masih terdiam kaku di teras rumah. Aku menatap punggung tegak yang biasa ku jadikan sandaran. Dia si sempurna kini adalah luka.
Tiga tahun telah berlalu, kini aku menatap pria didepanku yang masih terlihat sama, hanya tampak sedikit lebih dewasa, dia adalah si sempurna, Arya.
“Apa kabar Ra?” tanyanya.
“Baik. Kamu gimana?”
“Aku baik. Kamu masih sama, nggak ada yang berubah.”
“Hanya penampilan, aku sudah berubah sejak luka yang kamu tinggalkan.” Jawabku menatapnya dengan tenang sementara dia hanya terdiam mendengar kalimat yang aku lontarkan.
“Apa rasa itu masih untukku?”
“Ya. Tapi posisinya yang berbeda. Kamu masih menjadi satu-satunya. Namun, orang lain yang menyembuhkan hatiku kini yang menjadi selama-lamanya.” Jawabku sambil mengusap cincin pertunangan yang sudah 2 bulan ini melingkar di jari manis ku.
“Aku harus pergi, Ar.” Ucapku meninggalkannya yang masih terdiam membisu.
Arya akan selalu menjadi satu-satunya. Satu yang ku cinta, satu yang ku anggap sempurna, satu yang ku berikan seluruh percaya, satu yang menggenggam hati dan satu yang menghancurkanku sampai berkeping-keping. Arya adalah mega yang tak mampu ku hapus meski hujan telah mereda. Dia adalah luka yang tak pernah mampu aku lupa dan raga yang tak akan pernah aku punya. Aku melanjutkan semua setelah perpisahan kami yang cukup menyiksaku dan dia yang berada disisiku kini akan selalu kupertahankan karena aku tak ingin merasa kehilangan lagi, cukup hanya Arya yang memberiku siksa.
Komentar
Posting Komentar