Suara
riuh tepuk tangan terus bergema di seluruh lapangan ketika bola melewati keeper
begitu saja dan menembus masuk ke gawang pertanda gol kesekian yang dicetak
hingga membuat pertandingan berakhir dengan kemenangan bagi sekolah kami.
Mataku masih intens menatap seseorang yang sedang menyeka keringat di dahi
sambil berbicara santai dengan rekan satu timnya. Seulas senyum tipis terpatri
di bibir ku ketika pria itu berbalik dan pandangan mata kami bertemu.
"Ri.
Gila.. keren banget itu Rivaldy. Nggak salah dia dipilih jadi kapten, keren
abis sumpah, Ri." Aku duduk di kantin dengan malas mendengarkan Diana
terus berceloteh panjang lebar tentang pertandingan yang baru saja
usai."
"Di"
"Hmmm?"
"Nggak
capek dari tadi ngomongin Rivaldy? Kamu udah mengulang perkataan yang sama
lebih dari tiga kali." aku menatap Diana dengan sebal.
"Kamu
nggak gimana-gimana liat cowok sekeren itu?"
"Nggak."
ucapku sambil menatap lurus kedepan.
"Fans
dia pasti tambah banyak deh, Ri."
"Terus?"
"Kesempatan
aku buat deket makin susah nih.."
"Terserah,
Di." Aku menatap Diana dengan malas lalu beranjak dari tempat duduk.
"Eh..
mau kemana?"
"Perpustakaan.
Bye." jawab ku singkat.
Sepanjang
koridor sekolah menuju perpustakaan, aku terus mendengar suara mereka yang
masih saja membicarakan pertandingan hari ini dan tentu saja tak ketinggalan
satu nama yaitu Rivaldy yang ikut menjadi topik utama obrolan mereka. Pria itu
memang selalu menjadi pusat, entah dalam pertandingan atau bahkan dalam setiap
olimpiade yang diikutinya. Kapten tim sepak bola, juara olimpiade dan ketua
osis. Bukankah dia sempurna?
Perpustakaan
hari itu cukup sepi, mungkin karena siswa masih asik membicarakan tentang
pertandingan hari ini atau sekedar duduk dikantin tanpa ingin berpusing
memikirkan buku lagi. setelah menemukan buku yang ku cari, aku duduk pada
sebuah kursi kecil di sudut ruangan dekat jendela yang mengarahkan langsung
pada lapangan. Aku membuka buku yang berada dalam genggamanku dan mulai
membacanya halaman demi halaman, sampai aku merasakan tepukan pelan dibahu sebelah
kanan ku.
"Hai."
ucap pria itu dengan senyum lebar.
"Hai
kapten." balasku dengan tertawa.
"Hai
pacarnya kapten"
"Penasaran
sama pacarnya kapten."
"Nggak
perlu penasaran, kan udah tau."
"Siapa
sih?"
"Kamu."
ucapnya sambil tangan kanannya mengacak rambutku.
Aku
menutup buku dalam genggaman dan menatap pria di sebelah kananku yang sedang
memejamkan matanya sambil bersandar kursi, dengan tanpa aba-aba aku
mengeluarkan sapu tangan dari kantong saku seragam untuk menyeka keringatnya.
Matanya yang semula terpejam kemudian membuka saat tangan ku mulai menyentuh
dahinya. Ia menatapku lembut sambil tersenyum singkat, kemudian menghentikan
aktivitas tangan ku dan malah menggenggamnya.
"Lepasin
dulu, Al. Keringet kamu banyak banget ini. Lagian tadi kamu cuci muka apa nggak
sih?"ucapku dengan nada kesal saat ia tak juga melepaskan genggamannya.
"Udah
nggak apa-apa. Lagian aku juga masih wangi kok meski keringetan gini."
"Pede
banget kamu. Dasar."
"Capek.
Pinjem bahunya ya sayang."
Aku
hanya terdiam ketika merasakan beban berat menimpa bahuku, mulai menerawang ke
depan tentang awal hubungan kami yang bahkan sudah terjalin selama dua tahun
terakhir. Hubungan yang bermula dari kerja sama untuk lomba olimpiade
matematika dan berlanjut di olimpiade berikutnya hingga kami mulai terbiasa
bersama. Awalnya kami murni hanya sebatas rekan kerja sama untuk olimpiade,
namun entah bagaimana kami mulai menjalin hubungan tanpa memiliki rencana untuk
membuat kehebohan di sekolah dengan mengumumkan hubungan kami. Rivaldy
Auriville Atmaja dan Dania Arial Pramasta, dua siswa kesayangan Bandung
International Scholl saling menjalin hubungan. Ahh... membayangkannya saja
aku sudah tak suka, akan ada semakin banyak siswa yang membiacarakan kami dan
itu akan mengganggu ketenangan ku selama ini.
"Aku
sayang kamu." ucap Aldy padaku dengan mata yang terpejam dan kepala masih
bersandar di bahuku.
"Aku
tau." jawab ku.
"Kamu
mau terus kayak gini?"
"Ak-" drrtt
drrtt, ucapanku terjeda ketika aku mendengar suara getar ponsel dari dalam
saku seragamnya. "Ada yang chat, siapa tau penting?" kemudia aku
menunggu dia membuka ponsel yang sekilas aku melihat menampakkan nama Sindy,
salah seorang teman seangkatan kami yang menanyakan keberadaannya karena ingin
mengatakan sesuatu. Aku menatap Rivaldy yang hanya membaca pesan tersebut dan
kemudian kembali memasukkan ponselnya ke saku. "Kenapa nggak
dibales?" tanya ku penasaran.
"Nggak
penting." jawabnya sambil tersenyum.
"Aku
cuma nggak mau mereka heboh kalo tau kapten tim football mereka punya
pacar."
"Kapten football dan
Kapten Olimpiade nggak buruk kok"
"Hei..
kamu lebih banyak menang dari pada aku.”
"Tapi
kamu selalu menang banyak di hidup aku."
"Receh
banget mas" dan kami pun tertawa setelah pembahasan nggak penting itu.
Bel
tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, aku
masih berdiri dengan santai di depan halte bus sekolah untuk menunggu Rivaldy
datang karena kami memiliki janji untuk merayakan kemenangannya berdua. Aku
menatap ponsel dan membuka aplikasi obrolan berniat menghubunginya, namun tetap
tidak ada balasan setelah sepuluh menit berlalu sejak aku mengirim pesan hingga
akhirnya aku mulai merasa bosan dan memutuskan untuk mendatangi ruang kelasnya
dan aku cukup terkejut ketika melihat dia sedang memeluk Sindy.
"Sin,
aku juga sayang kamu."
Seketika,
aku merasa hancur mendengar satu kalimat singkat yang keluar dari mulut pria
itu. Tanpa berniat mendengar percakapan mereka lebih lama lagi, aku memutuskan
untuk pergi dan pulang kerumah tanpa menghubunginya lagi. Aku tak pernah
menyangka bahwa aku akan mendengar kalimat itu dari bibirnya yang ditujukan
untuk gadis lain.
"Pulang
sendiri dek?" tanya mama ketika aku sampai dirumah.
"Iya
ma." jawabku singkat.
"Aldy?"
"Lagi
latihan. Adek masuk kamar dulu ya ma."
Putus.
Haruskah? Beginikah akhirnya kami? Apakah aku yang terlalu percaya dia setia
tanpa perlu mereka tau hubungan kami? Aku terus memikirkan segala kemungkinan
tentang kami. Aku memejamkan mataku dan air mata mulai mengalir tanpa bisa
dicegah lagi hingga aku jatuh tertidur.
Tok
tok tok. Aku menarik selimutku lebih ke atas ketika mendengar suara
ketukan pintu kamar, tanpa berminat sedikitpun untuk membuka mata apalagi
membuka pintu.
"Bangun,
dek. Ada Aldy tuh di ruang tamu."
"Ngantuk
ma, suruh pulang aja." Balasku malas.
"Udah
datang masa cuma suruh pulang sih, dek?"
"Adek
ngantuk."
“Ayo
bangun. Mama nggak mau tau." Aku bergerak malas ketika mama mengambil
paksa selimutku dan menarik tanganku hingga aku berada pada posisi duduk namun
tetap dengan mata masih terpejam. "Ayo bangun. Mama nggak mau tau. Mandi
terus turun temuin Aldy yang udah nunggu dari tadi." ucap mama tegas masih
tetap memaksa berdiri dan mendorong ku masuk kedalam kamar mandi. "Mama
tungguin takut kamu malah tidur lagi. Heran mama, nggak biasanya kamu kayak
gini. Kalo lagi marahan itu ngomong baik-baik bukan malah kayak gini. Nggak
sopan kamu itu. Untung calon mantu mama itu sabar ekstra ngadepin kamu."
omelan demi omelan yang keluar dari mama nggak ada satupun yang aku tanggapi,
bahkan mendengarkannya saja aku sudah merasa malas. "Udah cepet mandinya.
Mama udah siapain baju kamu nih."
"Adek
mau milih baju sendiri, nggak mau dipilihin mama." Balasku
"Ya
udah cepetan."
"Iya"
Aku
menatap penampilan ku sejenak di depan cermin. Celana hot pant warna coklat,
kaos oblong warna putih dengan gambar desain Sinichi Kudo yang nampak keren dan
rambut hitam kelam sebahu terurai indah. Bibir tipis warna pink bahkan tanpa
perlu menambahkan lipstik atau apapun sejenisnya. Tanpa berniat lama lagi aku
memutuskan untuk menuruti perkataan mama dan menemui Rivaldy. Seampainya di
ruang tamu, aku melihat dia yang masih mengenakan seragam sekolah ditutupi
jaket kulit warna hitam kesayangannya. Apakah dia belum pulang kerumah? tanya
ku dalam hati. Aku berdehem pendek untuk menarik perhatiannya. Mengar suara ku,
dia mengusap wajahnya kasar dan mendongak menatapku dari ujung kepala sampai
ujung kaki.
"Kamu
kemana aja sih? Aku hubungin kamu dari tadi tau nggak. Aku nunggu kamu di halte
tapi nggak ada. Kenapa pulang tanpa ngasih kabar ke aku? Aku hampir gila
nyariin kamu, Ri." ucapnya dengan raut wajah kusut dan kesal. Rambutnya
yang biasa tertawa rapi kali ini terlihat sedikit berantakan.
"Kirain
kamu udah pulang. Kamu nggak bales pesan aku." jawabku singkat.
"Tapi,
aku udah nyuruh kamu buat nunggu aku sampe aku dating"
"Aku
nunggu kamu hampir setengah jam."
"Terus
kenapa nggak bales pesan aku?"
"Tidur.
Aku ngantuk." balasku singkat "Sekarang udah ketemukan? Kamu bisa
pulang."
"Kamu
marah? Aku ada salah?" pertanyaannya seketika mengingatkanku pada kalimat
yang dia ucapkan pada Sindy di ruang kelas tadi. "Kamu PMS?" tanyanya
lagi saat aku tak juga memberikan jawaban "Oke. Mungkin kamu pengen
sendiri. Aku bakal pulang dan besok kita bicara lagi kenapa kamu kayak
gini." ucapnya lembut seraya bangkit dari sofa dan menuju pintu keluar.
"Kita
putus aja." ucapku langsung pada intinya saat kami sudah berada diluar
rumah.
"Kamu
bilang apa?" tanyanya dengan raut wajah terkejut.
"Kita
putus aja."
"Becandaan
kamu nggak lucu, Ri."
"Aku
serius."
"Aku
anggap omongan kamu nggak ada. Aku pulang." balasnya dengan melihatku
tajam dan kemudia berlalu pergi.
Tanpa
berniat memikirkan apapun, bagi ku kami sudah selesai. Entah dia menerimanya
atau tidak. Jika kami berpisah dia akan bebas bersama Sindy atau siapapun.
Harusnya dia senang dengan keputusanku bukan? Bukan malah menganggapnya hanya
becandaanku saja. Aku memasuki kamarku dan membuka ponsel untuk melihat apakah
ada pesan, ternyata ada puluhan pesan dan belasan panggilan tak terjawab dari
Aldy juga ada pesan dari Diana yang mengatakan bahwa Aldy menghubunginya untuk
bertanya apakah aku bersamanya.
To:
Diana
Ohh..
terus kamu jawab apa?
From:
Diana
Ya
aku jawab nggak lah. Orang kamu juga emang lagi nggak sama aku. Kirain dia
kenapa ngehubungin aku, ternyata cuma nanya kamu dimana. Emang kalian lagi ada
persiapan olimpiade apa lagi? Bukannya kelas tiga udah nggak bisa ikut?
To:
Diana
Nggak
ada. Nggak tau juga kenapa, disuruh kepsek kali.
Balasku
singkat tanpa berniat memberitahu Diana hubungan kami sesungguhnya selama ini
yang bisa menciptakan kehebohan di sekolah.
Pagi
ini aku berangkat sekolah dengan raut wajah tidak semangat, aku memang sudah
berniat sejak awal untuk berangkat lebih pagi saat aku mendapatkan pesan bahwa
Aldy ingin menjemputku, di sekolahpun aku langsung menuju kelas tanpa berniat
kekantin terlebih dahulu seperti kebiasaanku selama ini. Hal ini aku lakukan
untuk meminimalisir tingkat kemungkinan pertemuan kami jika aku berada di luar
kelas. Apa lagi jika aku melihat Sindy, entah bagaimana aku bisa tetap bersikap
baik setelah melihat pelukan mereka kemarin di ruang kelas Aldy.
Bel
tanda istirahat berbunyi, membuat semua siswa berlomba berlarian keluar kelas
untuk menuju ke kantin dan mengisi perut mereka. Aku masih tetap setia berada
di tempat duduk ku, mengekurakan buku bacaan dan mulai membacanya tanpa berniat
kemanapun.
"Ke
kantin yuk, Ri?" ajak Diana padaku.
"Nggak.
Kamu aja sendirian."
"Nggak
laper?"
"Nggak"
"Beneran?"
"Hmm"
Mendengar
jawabanku yang bahkan tanpa berpaling dari buku yang aku baca, akhirnya Diana
menyerah dan meninggalkan ku seorang diri di kelas.
"Kenapa
berangkat sendiri?" tanya suara yang sudah sangat ku hapal itu. Mungkin
tadi harusnya aku ikut ajakan Diana untuk pergi ke kantin.
"Kamu
kelamaan."
"Oke.
Kamu kenapa kayak gini?"
"Kita
udah putus."
"Aku
anggap kemarin nggak ada."
"Lebih
baik kamu keluar."
"Ri"
"Keluar."
ucapku tegas.
"Oke."
Aku
berjalan dengan cepat bahkan hampir setengah berlalu akibat Diana yang menarik
paksa tanganku dari ruang perpustakaan.
"Cepet,
Ri." ucapnya dengan nafas tersenggal dan wajah memerah karena berjalan
cepat dari lantai tiga ke lantai satu dengan tangga karena lift penuh.
"Apaan
sih?"
"Udah
ayo. Cepet. Kamu bakal kaget setengah mati pas liat di lapangan football ada
apa."
Aku
melihat lapangan yang sudah sangat ramai, terdengar sorakan heboh para siswi
yang mengelilinginya dan siswa hanya bersiul. Diana menarik tanganku, memaksaku
menerbas siswa lainnya yang berada di hadapan kami hinggak kami berada di
barisan paling depan. Aku melihat Rivaldy yang berdiri di tengah lapangan
sambil menatapku lekat, aku hanya menunduk seakan tak percaya apa yang pria itu
lakukan. Apakah dia berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Sindy di tengah
lapangan seperti ini? Pikirku tak percaya.
"Hai
semuanya. Maaf banget ganggu kalian semua. Hari ini sebenernya spesial
banget" serunya dengan suara keras yang setelahnya disambut dengan suara
riuh seluruh siswa di lapangan. "Ini buat seseorang mungkin receh
banget." dia tertawa singkat saat mengucapkan kalimatnya."Tapi, buat
aku ini bukti aku sayang dia." suara riuh semakin terdengar kencang. "Happy
second anniversary, sayang. I love you. Yesterday, now or tomorrow. Aku
nggak tau kenapa kamu marah, aku nggak tau kesalahan aku, tapi aku tetap minta
maaf karena udah buat kamu marah. Aku nggak bisa romantis, nggak paham dan aku
juga tau kamu nggak nuntut untuk itu." Apakah dia berbicara dengan ku?
lalu bagaimana Sindy? tanyaku dalam hati. "Lagu ini buat kamu." dia
mengakhiri monolognya dan mulai memetik senar gitar.
When
I first met you,
I
never thought, yeah
I’ll
lost in your eyes
Runaway
but I see you in my dreams
Oh,
I want to make you mine
I'm serious so courious
Do
you feel the same?
What
Can I do, so attached to you, oh
I
think I’m falling in love
With you...
I
want you, I can’t do without you baby
Can’t
you see it through?
For
you…
I
tear down this stonewall
Step
out to a free fall
Do you want me too?
Reza
Darmawangsa – Want me to
"Do
you want me too?" Rivaldy melangkah kearahku, semakin mendekat tanpa
peduli riuh suara yang semakin memekakkan telingan hingga aku merasa
mungkin akan tuli setelah ini. Jantungku berdebar tak karuan saat dia sudah
berada tepat didepanku. Suara gitar sudah berhenti, Rivaldy mengulurkan tangan
kanannya untuk menyentuh pipi kiriku. "I love you. Happy second
anniversary, sayang. Jangan bilang tentang putus lagi, aku takut."
ucapan barusan menambah tingkat keriuhan yang ada, semetara di pemilik kata
seakan tanpa beban dan tak peduli bahwa bukan hanya kami di lapangan ini.
"Kamu
gila tau nggak." seru ku saat kami hanya duduk berdua di atas rooftop
sekolah setelah kehebuhan yang baru saja sukses diciptakannya. "Kamu mikir
apa sih?" ucapku dengan kesal.
"Ini anniversary kita.
Gimana kalo dari pada kamu marah-marah mending kamu peluk aku aja."
ucapnya santai sambil merentangkan kedua tanggannya.
"Gimana
sama Sindy?" tanya akhirnya.
"Kenapa
sama Sindy?"
"Ya
kamu sama Sindy."
"Emang
aku sama dia kenapa?"
"Aku denger kamu kemarin bilang kalo kamu sayang sama dia di dalem kelas." seru ku dengan nada meninggi.
"Jadi, karena itu kamu marah dan minta putus?" aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. "Harusnya kamu denger perkataan aku selanjutnya, nggak Cuma denger bagian itu doang. Dia bilang sayang sama aku tapi aku bilang aku juga sayang sama dia sebagai temen sekelas yang baik."
"Terus
kenapa pake acara peluk segala?"
"Dia
nangis, ya udah."
"Kamu
nggak sayang dia?"
"Aku
sayang kamu. Cuma kamu. Banget sama kamu." ucapnya sambil tersenyum dan
mencubit pipiku dengan gemas. Memang harusnya kemarin aku mendengar
kelanjutannya, tapi siapa yang tahan kalo pas diawal denger aja udah kayak
gitu. "Tapi, aku suka kamu cemburu." ucapnya sambil terkekeh pelan.
Akhirnya, rahasia hubungan kami terbongkar meski dengan cara nekat yang dia gunakan tanpa persetujuan dari ku. Menyebalkan memang ketika orang lain semakin membicarakan kami. Dua siswa kebanggaan sekolah yang menjalin hubungan bahkan mengikuti olimpiade bersama. Tentu saja, berita itu menyebar cepat bahkan samapi pada telinga para guru dan kepala sekolah, namun pria yang sudah menemani tujuh ratus tiga puluh hariku itu hanya mengatakan "Biarin aja."
Komentar
Posting Komentar